Veto Cameron di KTT Uni Eropa Timbulkan Kontroversi
12 Desember 2011Hari Minggu (11/12), dua hari setelah keputusan Perdana Menteri Inggris David Cameron di KTT Uni Eropa, Ketua Partai Liberal Demokrat dan Wakil Perdana Menteri Nick Clegg melontarkan kritik atas keputusan Inggris menolak perubahan perjanjian Uni Eropa, "Saya benar-benar kecewa dengan hasil KTT minggu lalu, karena justru sekarang ada bahaya nyata bahwa suatu saat Inggris akan terdesak dari Uni Eropa dan kehilangan bobotnya."
Merugikan Inggris
Hari Jumat minggu lalu (09/12), Nick Clegg sebenarnya mengatakan, bahwa Cameron sebagai perwakilan penuh Inggirs. Akan tetapi, hari Minggu (11/12), Clegg dengan tajam mengkritik, sikap tak kenal kompromi Cameron dapat merugikan rakyat Inggris. "Saya pikir, hal ini tidak bagus baik bagi lapangan kerja, baik di pusat keuangan London atau di tempat lain, dan ini juga tidak baik bagi keluarga di seluruh negeri."
Juga di dalam kalangan partai konservatif terdengar nada kritik. Menteri Kehakiman Ken Clarke, salah seorang dari sedikit yang pro Eropa, menggambarkan sikap Cameron sebagai sangat mengecewakan dan meresahkan. Akan tetapi Clarke hanyalah orang luar dalam kabinet Inggris, juga dalam partai.
Syarat Inggris Tidak Dipenuhi
Sementara rekan dekat Cameron dalam partai membelanya, seperti Menteri Luar Negeri William Hague, "Seluruh anggota pemerintahan sebelumnya menyepakati posisi Inggris dan menyetujui berpartisipasi dalam perjanjian Uni Eropa baru jika syarat minimum yang diajukan Inggris disetujui. Dan syarat ini tidak dipenuhi. Oleh karena ini keputusan veto Cameron sudah benar."
Dan bahkan Menteri Keuangan George Osborne menganggap keputusan Inggris ini dapat melindungi Uni Eropa, "Kita tidak keluar dari Uni Eropa, kita malah melindungi Uni Eropa sebagai satu institusi yang melayani kepentingan 27 anggotanya termasuk Inggris. Inggris akan selalu siap berunding jika kepentingan Inggris, seperti kepentingan ekonomi Inggris, juga dibicarakan. Tapi cukup jelas, jika negara-negara Euro ingin tumbuh lebih kuat bersama tanpa melindungi kepentingan Inggris, maka mereka harus melakukannya sendiri dan tidak memanfaatkan Uni Eropa untuk hal tersebut."
Kemungkinan, hari Senin ini (12/12), di depan parlemen Inggris, Cameron akan mengemukakan argumen yang sama mengenai keputusannya.
Sementara itu, menurut jajak pendapat yang dilakukan harian Daily Mail, 62 persen menganggap keputusan Cameron tepat dan hanya 19 persen yang menentangnya. Survei yang sama juga menunjukkan, bahwa saat ini, hampir setengah warga Inggris berkeinginan untuk keluar dari Uni Eropa dan hanya 33 persen yang mendukung untuk tetap dalam Uni Eropa. 65 persen peserta jajak pendapat menganggap mata uang Euro telah gagal.
Sebastian Hesse/Yuniman Farid Editor: Hendra Pasuhuk